AKHIR CATATAN NAMI

Gue gak jago nulis. Tapi ingin jadi penulis. Gue gak jago ngarang-ngarang kata. Tapi ingin ngarang-ngarang kata.  Gue gak suka baca novel. Tapi gue paksa untuk baca. Ini karena gue ingin jadi penulis yang maksa. Dari pada gue menghayal berada di dalam cerita drama korea yang ada malah nambah jerawat gue. Mending gue membuat wadah ide gue ke sini.

Ini adalah Cerpen gue untuk mengikuti lomba cerpen bertemakan #komedi-romantik (http://ediakhiles.blogspot.com/2013/04/lomba-cerpen-komedi-romantik-diva-press.html?spref=tw). Gak tau deh hasil cerpen gue apa ada sisi komedi-romantiknya. Jadi mohon kritik dan saranya ya guys. Jika kalian pada jago buat cerpen ayo.. ikutan aja.

 

AKHIR CATATAN NAMI

Aku menyukai matanya yang coklat. Aku menyukai hidungnya yang mancung. Aku menyukai senyum dari bibir tipisnya. Aku menyukai kulit coklatnya yang bersih. Aku menyukai rahangnya yang tegas. Aku menyukai tubuhnya yang tinggi. Aku menyukai sikap baiknya, pedulinya dan perhatiannya. Aku menyukai semua yang ada pada dirinya.

Dia adalah pria yang aku suka tiga tahun lalu semenjak kelas satu SMA hingga aku duduk di bangku  kuliah di kelas dan jurusan yang sama dengannya. Aku selalu memandanginya dan memperhatikannya diam-diam dari balik bukuku mengabaikan setiap ilmu yang diberikan dosen.

PLETAK! “KELUAR”

Sudah terbiasa aku mendapatkan lemparan spidol papan tulis tepat di kepalaku. Ini merupakan makanan sehari-hariku. Dengan mendapat hukuman berdiri di luar kelas maka aku dapat leluasa memandangi Jun dari sana. Hehe.

***

Aku selalu mengetahui apa saja yang Jun lakukan selama di sekolah dulu. Ketika sedang belajar, dia akan fokus mendengarkan dan selalu mencatat di bukunya dengan wajah yang serius. Ketika istirahat, dia menggunakannya untuk berolahraga basket. Ketika bingung, dia selalu bertanya pada gurunya. Ketika berpikir, dia selalu memainkan cetekan yang ada pada pulpennya. Ketika senang dapat mentutaskan tugas, dia selalu melompat girang dengan tertawa lebar. Ketika sakit, dia banyak tidur di kelas. Sikapnya tidak berubah sama sekali dengan yang dulu hingga detik ini.

Aku duduk di bangku kosong di balik tiang untuk menontonnya latihan basket seorang diri. Ini adalah tempat favoritku agar dapat melihatnya dengan jelas tanpa diketahui olehnya. Keringat yang mengalir di sekujur badannya membuatnya makin terlihat keren di mataku. Itu keringat bisa buat masak kali ye?. Hehe.

Setelah itu dia menghampiri teman-temannya di taman kampus untuk sekedar ngobrol bersama berbagi canda tawa. Lalu ia memasuki perpustakaan terlihat sedang mencari suatu buku dengan tampang yang santai.

Aku diam-diam masih membuntutinya seperti penguntit licik. Berusaha mungkin bersembunyi di balik rak-rak buku tinggi agar tidak terlihat olehnya. Karena susunan bukunya terlalu tinggi atau tubuhku yang pendek aku tidak dapat leluasa mengintai kemana perginya Jun. Ku jinjitkan kakiku untuk dapat melihatnya dari susunan dicelah buku paling atas dan ’BRAK BRAK’ semua buku-buku itu jatuh menimpaku.

Akupun mendapat hukuman menyusun semua buku-buku itu hingga tersusun sesuai dengan urutan semula tanpa ada yang terlewatkan. Dan yang paling parah aku tidak boleh lagi mengunjungi perpustakaan selama dua minggu karena telah membuat kegaduhan.

***

Pagi ini sedang berlangsung mata kuliah matematika. Mata kuliah yang paling ku benci dan tidak aku mengerti. Karena jurusan arsitek bukan keahlianku. Aku melakukan semua ini hanya demi  Jun seorang. Aku mengejarnya hingga ke bangku kuliah. Aku gila? Ya, aku memang gila. Tepatnya cinta ini membuatku tidak waras.

“perkenalkan namaku Beno. Pindahan dari Kanada”

Di kelasku telah kedatangan mahasiswa baru yang cukup tampan. Semua tatapan jablay wanita-wanita itu tidak lepas dari anak baru itu. Dan anak baru itu selalu saja menebar senyum kesana kemari bak modeling majalah sobek.

“oh. aku menemukan sesuatu di dekat taman depan” ia langsung mengeluarkan  sebuah buku kecil dari sakunya dan membacakannya. “aku menyukai semenjak aku kelas satu SMA. Aku…”

Aku yang sibuk menatap Jun tidak sadar bahwa buku itu adalah punyaku. Rina mendorong kepalaku dengan kuat hingga aku menatap wajahnya dengan penuh amarah. Rina tidak kembali marah padaku, dia hanya menunjuk ke depan ke arah Beno.

“Aku menyukai mata coklatnya. Aku…”

“YA! HENTIKAN”

Dengan cepat ku rebut buku itu darinya dan aku berhasil mendapatkannya. Akhirnya aku bisa menemukan buku ini setelah aku mencarinya kemana-kemana. Tetapi, buku ini ditemukan oleh orang yang tidak tepat. Rahasiaku ada ditangan anak baru ini.

Dengan sombongnya ia menyuruh Rina untuk duduk dikursi lain karena ingin duduk disebelahku. Aku yakin dia ingin memanfaatkanku karena ia tahu rahasiaku. Tanda-tanda lampu kuning telah menyala diatas kepalaku.

“pria itu yang kamu suka? Seleramu tinggi”

Arrgghh. Tu kan dia mulai berulah di sebelahku. Tapi aku tidak memperdulikannya dan lebih memilih untuk membaca buku matematika. Ada apa denganku. Baru kali ini aku membaca buku sialan ini.

“pura-pura baca? Aku yakin waktumu dihabiskan untuk menatapnyakan. Tidak usah pura-pura”

Dia pria tetapi mulutnya seperti ibu-ibu rumpi di bakul sayur. “aku mohon. Jangan beri tahu dia mengenai perasaanku”. Aku hanya bisa meminta ini padanya.

Beno berjanji tidak akan memberi tahu itu dengan Jun. Lalu ia bertanya denganku apa aku mengenalnya?. Tentu aku kenal. Aku baru mengenalnya beberapa menit yang lalu. Seorang mahasiswa baru pindahan dari Kanada dan baru saja pindah di Indonesia dengan nama Beno. Dan hampir mempermalukanku dengan membaca catatan buku harianku.

Beno tampak kesal dengan jawabanku “lupakan”

***

Aku kesal tidak dapat membuntuti Jun masuk ke dalam perpustakaan karena sudah ada tanda larangan bertuliskan “Nami di Larang Masuk!”. Ini sedikit menghinaku, kalian tahu. Tulisan yang tertempel di depan pintu itu mengingatkanku dengan “Awas ada Anjing Galak” atau “Tidak menerima sumbangan”. Satu kata buat nih perpus sialan ‘terlalu’.

Berikutnya aku melihatnya dari balik tiang tempat biasa aku bersembunyi untuk menonton latihan basketnya. Aku sangat tidak bosan mengambil setiap geraknya dengan menggunakan ponsel hijauku. Ini sangat gila, isi dalam ponselku semuanya berisi foto-foto Jun. Fotokupun tidak ada disana apalagi foto orang tuaku dan adikku.

“mata-mata ya”

“AKH!” sontak aku terkejut dengan suara Beno yang tiba-tiba muncul di sampingku. Alhasil ponsel hijau kesayanganku terjatuh dari tanganku hingga menghasilkan puzzle yang luar biasa. Pria ini, mulai mengusik hidupku.

“apa yang kalian lakukan disini berdua”

“AKH!” lagi-lagi aku terkejut. Ternyata si Jun telah berada di hadapanku. Akupun langsung bangkit berdiri memandanginya dengan perasaan campur aduk. Seluruh tanganku bergetar dan berkeringat. Jantungku berdegup kencang. Nafasku tidak karuan. Jun saat ini ada di depanku.

Beno menggelengkan kepalanya dan menatapku bahwa ia dan aku tidak melakukan apa-apa. Aku yang masih bingung antara mimpi dan nyata hanya bisa terdiam memandangi Jun yang benar-benar tampan di lihat dari dekat. Melihatku yang diam mematung, Beno menyenggol badanku hingga aku tersadar ini adalah nyata.

“A. A. A. Ak. Ak…” kenapa aku jadi aziz gagap begini.

Jun menyondongkan mukanya kearah wajahku dengan mulutku yang terbuka gagap “ada yang ingin dikatakan”.  Aku tahu situasi ini sangat buruk. Aku tidak ingin berpenampilan buruk ketika Jun mulai menatapku dan menyadari keberadaan diriku. Itulah yang aku tuliskan di buku catatanku.

Aku menarik-narik paksa baju Beno hingga terlihat kaus kutangnya untuk segera membawaku pergi dari sini. Tetapi Beno tidak mengerti maksudku. Wajahnya malah mendekatiku karena ingin mendengar apa yang aku katakan.

“A. A..”.  ku tunjukkan jariku menunjuk pintu luar dengan gemetar yang hebat. Barulah Beno mengerti maksudku. Ia langsung menggenggam tanganku dan membawaku keluar gedung olahraga. Pemandangan ini seperti ‘Beno yang telah memenangkan hatiku dari si tampan Jun’. Apa-apan ini hah!

“hahahaha… tangan bergetar. Kepala berkeringat. Bicara gagap. Kamu anak aziz gagap?” Beno terlihat puas. Ia menyandarkan kepalanya di bawah pohon beringin.

“ini semua gara-gara kamu!”

“kamu menyukainya selama hampir empat tahun tapi belum bisa mendapatkan perhatiannya maupun Cintanya. Dasar bodoh”

Tiba-tiba terbesit ide muncul dari kepalaku. Aku langsung menatap serius dan mendekati Beno yang masih bersandar. Beno merasakan hawanya benar-benar panas ketika aku menatapnya. Rasa berdebar pada hati Beno muncul ketika aku makin mendekatinya.

“bantu aku mendapatkan Jun”

Beno membuang mukanya dari mataku. Rasa berdebarnya kembali menghilang seketika entah kemana. Ia tidak bisa membantuku karena itu bukan keahliannya. Dia menyarankanku untuk pergi saja kerumah Eyang cubuh. Minta sesuatu supaya Jun dapat terpikat olehku. Iapun langsung melongos pergi meninggalkanku.

Kenapa daya ingatku sangat begitu lemah. Sudah tengah malam aku baru ingat ponsel hijau kesayanganku terjatuh di gedung olahraga ketika si Beno perusak tiba-tiba muncul dihadapanku. Dengan menelusuri kegelapan menggunakan sebuah senter aku masuk secara diam-diam ke gedung olahaga dengan melompati pagar kampus. Ini sudah keahlianku.

Aku mencari jatuhnya ponselku dimana tempat aku selalu bersembunyi dari Jun. Tiba-tiba tampak bayangan hitam menjulang tinggi dari balik tembok hingga membuatku kaget tak mampu untuk berteriak. Bayangan apa itu?. Aku bersembunyi mengintipnya jauh dari tempat ponselku terjatuh.

Siapa dia?. Aku memberanikan diri mendatanginya dengan menarik nafas dalam-dalam. Ku panarkan senter terang ini kearah wajahnya hingga membuatnya terkejut.

“Jun?” apa yang sedang dilakukannya di gedung olahraga basket tengah malam begini. “kenapa ada disini?”

“seharusnya aku yang bertanya itu padamu. Kenapa bisa masuk kedalam gedung olahraga?”

“em.. itu.. itu..” aku mulai kembali gagap.

Jun dengan tiba-tiba menodongkan sesuatu kearahku yang sontak membuatku berteriak “AKH!”. Ternyata itu adalah posel hijau kesayanganku. Tanpa ragu aku langsung merampas ponselku dari tangannya. Entah harus senang atau bingung aku bisa kembali menemukan ponsel hijau kesayanganku. Apa kira-kira dia melihat isinya?. Bisa gawat jika itu benar!

“ponselmu rusak” tuturnya.

“APA! Rusak?” sudah terbayang dikepalaku aku sedang memukul, membanting dan melempar Beno jauh dari bumi ini. Foto-foto kumpulan hasil jerih payahku hampir empat tahun hilang sudah karena ulahnya. Aku harus membuat pelajaran dengannya.

Jun melemparkan pertanyaan padaku yang melihat tampang kesal mulai bersarang diwajah manisku. Manis? Hanya aku yang menganggapnya seorang diri. “itu ponsel penting?”.

Bukan penting lagi melainkan ini sudah seperti hidup dan matiku. Ponsel ini sangat berharga untukku. Jika ponsel ini tidak ada, aku harus mengambil foto Jun pake apa?. Ponsel itupun dengan susah payah aku dapatkan dengan mengemis-ngemis pada ayahku.

“tidak mau keluar?”

Jun menyadarkanku yang hendak pergi meninggalkan gedung gelap ini. Seperti magnet aku langsung mengikutinya dari belakang. Kami berdua menuju pagar gerbang kampus tanpa bicara apapun. Kami hanya diam dikesunyian malam.

Bajuku aku singsingkan dan bersiap akan melompati pagar yang cukup tinggi itu. “HUUFFT” ku tiupkan Poni yang sedikit menutupi mataku sebagai penambah nafsu lompatanku. “ satu. dua. tigaa….” Aku berlari kencang menuju gerbang.

“TUNGGU!” teriak Jun yang langsung menghentikan lariku. Dengan gaya yang masih posisi lari aku langsung menoleh kebelakang. “apa kamu tadi masuk kesini lompat pagar?” tanya Jun tidak percaya.

Hahahaha. Ini konyol. Ternyata Jun mempunyai pintu rahasia dimana hanya dia saja yang tahu akan hal ini. Tetapi kali ini bukan dia saja yang tahu, akupun mulai mengetahuinya. Hanya kami berdua yang tahu. hehehe.

Pintu rahasia itu berada ditembok belakang kampus yang tertutup tumpukan bunga-bunga indah. Sumpah! Aku baru tahu mengenai ini. Dari mana Jun bisa tahu?

“aku yang membuatnya. Karena aku secara diam-diam menggunakan gedung basket pada tengah malam”

“(tersenyum)” ini seperti mimpi. Aku bisa berdua dengan Jun ditengah malam dengan hobi yang sama yaitu menyusup secara diam-diam. Hobinya ini baru aku saja yang menyimpulkan sendiri.

“ayo kita pulang” ajaknya. Huaa… aku melayang!. Dia mengajak pulang!.

“rratata..rratata..” pagi yang indah untukku bernyanyi

Beno menatap curiga kearahku yang terlihat girang seorang diri sambil tersenyum-senyum. “kamu masih normalkan?”

Ku keluarkan ponsel dari tasku dan ku tunjukkan padanya bahwa ponsel ini tidak dapat kembali hidup. Tetapi kali ini aku akan memaafkan dirinya karena berkatnya aku bisa berduaan dengan Jun kemarin malam.

“jadi kalian sudah saling mengobrol?”

“(mengangguk) rratata..rratata.. . Tidak memberikku selamat?”

“selamat? gundulmu betato!” Beno pergi dengan wajah kesal.

Melihatnya kesal aku langsung mengejar dan bertanya kenapa dia marah kepadaku. Itu dapat membuat rasa bahagiaku hilang seketika. Apakah aku ada salah?. Seharusnya dia yang punya banyak salah denganku.

Beno melempar pertanyaan denganku, apakah waktu dulu aku pernah menyukai seseorang?. Tidak. Aku  hanya mencintai Jun. Jun adalah cinta pertamaku di SMA. Aku tidak pernah mencintai orang lain selain Jun. Kenapa Beno tiba-tiba bertanya seperti itu? pria ini sangat kepo tentang kehidupan orang lain. Lalu aku balik bertanya padanya “apa kamu sebelumnya pernah menyukai seseorang?”

Jawaban yang sangat mengejutkanku. Ia menyukai seorang wanita ketika dari kelas satu SMP hingga sekarang, tepatnya hampir tujuh tahun lamanya. Wanita yang ia kenal sangat baik hati dan tidak memperdulikan apa kata orang. Dia adalah wanita periang.

“sama bodohnya denganku. Hampir tujuh tahun lamanya masih belum mendapatkan perhatian dan cintanya?. Apa kamu yakin wanita itu masih hidup?”

“ya. tentu dia masih hidup dengan hati orang lain”

“hati orang lain?. maksudmu dia sudah punya kekasih?. Lalu kenapa kamu masih mempertahankannya? Carilah wanita lain. Apa kamu mau hidupmu melajang seumur hidup?”

“aku akan menunggunya”

Hubunganku dengan Jun makin lama makin dekat. Aku sudah terbiasa menatap mata dan senyumnya dari jarak dekat. Aku sudah terbiasa mengobrol santai disela-sela istirahat bersamanya. Kamipun saling curi-curi pandang disela-sela belajar. Aku berharap, Jun memilik perasaan yang sama dengan apa yang aku miliki. Ini harapan yang aku tulis di buku catatanku.

Berbeda hubunganku dengan Beno. Entah mengapa kami menjadi jarang bertegur sapa. Sebenarnya siapa yang menjauh? Diriku atau Beno?. Beno hanya sibuk dengan tugas-tugas dan menghabiskan banyak belajar di perpustakaan. Aku berusaha melempar senyum dengannya tetapi dia selalu mengalihkan pandanganya. Aku berusaha menegurnya tetapi dia pura-pura tidak mendengar. Apa aku punya salah?. Aku selalu bertanya dalam hati setiap tidak bersama Jun maupun ketika bersamanya.

“terus ganggu dia hingga Beno mau bicara denganmu. Jika itu masih tidak bisa maka aku yang akan membantumu” tutur Jun.

“tidak apa-apa. Aku memutuskan tidak akan bicara dengannya lagi”

“bukankah kamu menyukaiku?” terangnya.

Mataku melotot dengan lebar menatap Jun serius meskipun mataku terlahir sipit. Darimana dia tahu kalau aku menyukainya?. Apa dia tahu semuanya?. Aku adalah wanita yang mencintainya hingga hampir empat tahun lamanya.

“kamu gak mau dengar jawaban perasaanku denganmu?”

“(menggeleng)”

“selesaikanlah urusanmu dengan Beno. Aku menunggumu”

Jawaban?. Jawaban apa yang akan Jun berikan denganku. Aku berharap jawaban itu dapat membuatku terbayang kelangit tujuh.  Membuat jantungku berdegup kencang tak terkendali. Membuat nafasku tidak berhembus teratur. Berharap, aku dan Jun dapat mengenggam hati kita berdua dan menjaganya hingga akhir hayat. Itulah ending yang ku tulis di dalam buku catatan kecilku.

Seperti apa yang diperintahkan oleh Jun aku harus terus menganggunya hingga dia mau berbicara denganku. Dengan begitu aku bisa mengerti dimana letak salah yang telah kuperbuat.

Aku mendekati Beno yang sedang serius membaca buku di perpustakaan. Sepertinya dia tidak sadar akan keberadaanku yang tepat disampingnya. Dia masih saja berkutat dengan buku-buku itu.

Aku terus menerus bersin, menguap, dan batuk berulang kali hingga pengunjung lain merasa terusik. Tetapi Beno sama sekali tidak terusik olehku. Dia masih santai membaca buku lainnya. Ini sangat menyebalkan.

Hingga Beno keluar dari perpustakaan aku langsung membuntutinya. Kejadian ini mengingatkan ku pada Jun. kupukul kepalaku dengan kuat hingga kesakitan karena bukan saatnya mengenang hal itu.

Aku terus membuntuti Beno hingga ia merebahkan dirinya dibawah pohon beringin menutupi sinar matahari menyelipkan teriknya. Beno terlihat sangat lelah dibawah sana. Ketika matanya terpejam, aku perlahan mulai menghampirinya yang kuyakini ia sedang tidur.

“kenapa kamu bersikap ini denganku?” aku bertanya dengan suara pelan tepat disampingnya. “aku harap suatu saat nanti kamu bisa menjelaskaannya padaku”.

Karena takut Beno terbangun akupun berusaha cepat pergi meninggalkannya. Dan ‘GREB’ Beno meraih tanganku. Kami berduapun saling berpandangan satu sama lain dalam beberapa menit.

“aku sudah membiarkan diriku menjauh. Tetapi kenapa kamu mendekatiku?”

Aku sama sekali tidak mengerti ucapan kalimat yang keluar dari bibir Beno.

“kamu ingin tahu kenapa aku melakukan semua ini?”. Bento mengeluarkan buku catatan dari dalam tas levisnya dan memberikannya padaku. Dan ia langsung pergi meninggalkanku.

Kubuka buku catatan yang telah rusak dan rapuh  disetiap sisinya itu dengan hati-hati. Terpampang nyata fotoku dengan seorang pria culun ketika aku bersekolah di kanada. Pria pemalu dan lemah yang selalu di bully di sekolahannya.

Dia selalu datang menolongku. dia selalu datang melindungiku. Hanya dia yang menganggapku ada. Hanya dia yang mau tulus berteman dengan pria culun. Hanya dia seorang yang selalu kulihat dari balik kaca mata tebal ini.

Aku akan datang mencarinya. Aku akan datang dengan penampilanku yang berubah 180 derajat terlihat keren. Aku akan datang melindunginya seperti dulu dia pernah melindungiku. Aku akan membuat pandangannya hanya untuk melihatku seorang. Seperti dulu aku hanya melihatnya seorang. Saat itu, aku akan mengatakan terima kasih dan mengatakan cinta padanya.

Aku tidak menyangka dengan perubahan Beno si pria culun yang dulu ku kenal saat SMP telah menjadi pria sangat keren. Bagaimana bisa aku melupakannya?. Pantas saja aku tidak merasa asing ketika bersamanya. Tiba-tiba secarik tiket pesawat jatuh dari balik kertas catatan Beno.

Tiket pesawat?. Hari ini, Rabu tepat pukul 13.05 Beno akan kembali ke Kanada. Tinggal dua jam tersisa untuk membuatku berpikir jernih. Apa yang harusku lakukan?. Apakah Jun tahu akan hal ini?.

Sepatu coklat muncul di hadapanku yang ternyata itu adalah Jun. “aku menyukaimu. Sejak awal kamu pindah dari Kanada. Berpikirlah yang jernih. Aku tau ini adalah sulit”. Pernyataan yang keluar dari bibirnya membuatku susah bernafas. Jun ternyata menyukaiku hampir selama empat tahun.

Tiba di Bandara internasional aku dan Jun berlari mendatangi tempat penerbangan peasawat menuju Kanada dengan buku milik Beno dan ticketnya. Aku dapat mudah menemukan Beno dengan jacket biru yang sering dikenakannya.

Beno menatap kearahku lalu menatap kearah Jun yang berdiri disampingku. Sepertinya dia tahu jawaban apa yang akan ku berikan padanya. Iapun memintaku untuk memberikan tiketnya kembali. Aku tahu ini sangat meyakiti perasaanya yang telah tersimpan manis selama hampir tujuh tahun hanya untuk wanita sepertiku.

“maaf Beno” aku tidak bisa menahan tiket ini ditanganku untuk menahannya pergi. Aku harap dengan kuberikan tiket ini kepadanya ia dapat melupakan semua kenangan buruknya selama di Indonesia. Aku berharap ia dapat kembali membangun kenangan yang indah di sana.

 

 

END

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s